Keliling
Eropa paling nyaman, mudah, dan relatif murah adalah dengan menggunakan
kereta. Menemukan gerbong kereta mudah saja, tinggal baca di papan
petunjuknya yang bertuliskan kota tujuan, jam berangkat, dan di jalur
rel nomer berapa. Tapi ternyata tahu jalur saja belum cukup, kita harus
lihat diagram posisi gerbong yang biasanya digambarkan di papan
pengumuman di pinggir jalur rel kereta. Pernah saya hampir saja terbawa
ke kota lain kalau tidak diberitahu kondektur karena kadang ada gerbong
yang ‘memisahkan diri’ di stasion tertentu, gerbong dari nomer sekian ke
nomer sekian ke kota ini, sementara gerbong-gerbong lainnya ke kota
lain lagi. Duh, males banget kan kalau nyasar?
Setiap gerbong ditulis angka 1 atau 2, artinya pembedaan berdasarkan
kelas kereta. Sebagai perokok, cepatlah cari gerbong yang ada simbol
gambar rokoknya. Tempat duduknya sendiri ada 2 jenis, ada yang tempat
duduk saja dan ada yang berbentuk kompartemen dimana 1 kompartemen kaca
terdiri dari 6 orang yang duduk hadap-hadapan. Sebagai backpacker,
akuilah kita ingin yang murah dan nyaman. Triknya, cepat cari
kompartemen yang kosong, dan ‘jajahlah’ tempat duduknya dengan tidur
selonjor di 3 kursi. Berlagaklah tidur nyenyak dan tidak mendengar
apa-apa, alhasil Anda bisa mendapatkan tempat yang nyaman untuk tidur
dengan punggung rata. Paling orang yang masuk cuma geleng-geleng kepala
dan mereka pergi mencari kompartemen lain. Kalau kereta penuh, tentu
kita juga harus bersedia memberi tempat duduk, tapi kita bisa ‘memilih’
orang kok. Nah, kalau yang masuk cowok ganteng, silakan bangun dan
mempersilakan duduk dengan senyum yang termanis. Kalau yang masuk
nenek-nenek yang kelihatan tidak menyenangkan, tetaplah berlagak budeg
dan tidur. Namun kalau berlagak tidur tidak cukup untuk ‘mengusir’
orang, cara lain adalah menghisap rokok kretek Indonesia yang baunya
saja membuat orang males masuk.
Untuk jarak jauh, kita bisa tidur di gerbong khusus couchette dimana senderan kursinya bisa dinaikkan dan dijadikan tempat tidur. 1 kompartemen bisa jadi 4 bunk-bed.
Suatu kali saya naik kereta dari Paris ke Roma, saya baru sadar bahwa
penomoran tempat duduknya sangat rasis. Dalam 1 kompartemen para
penumpangnya ‘disesuaikan’ berdasarkan warna kulit: kulit putih dan
kulit putih, kulit hitam dan kulit hitam, kulit coklat dan kulit coklat.
Saya yang tadinya berharap sekompartemen dengan 3 lelaki Italia yang
ganteng-ganteng, kenyataannya berbeda 180ยบ: saya dimasukkan ke
kompartemen bersama 3 bapak-bapak tua India yang ampun-dah-bau-kakinya
dan ampun-dah-berisik-ngoroknya!
Dengan menggunakan tiket Eurail Pass, kita berhak berkereta ke
negara-negara Eropa yang masuk ke dalam jaringannya namun perhatikanlah
peraturan tentang visa – Schengen tidak termasuk Swiss dan Inggris. Dulu
sebelum ada visa Schengen, kita harus mengurus visa satu-persatu ke
setiap Kedutaan Besar, begitu juga dengan kereta yang sering
diberhentikan di perbatasan untuk pemeriksaan paspor dan visa. Bahkan di
tengah malam pun, kita akan dibangunkan oleh petugasnya. Kadang ada
sistem kolektif, beberapa jam sebelum sampai perbatasan si petugas
mendatangi kita dan mengumpulkan paspor penumpang sehingga kita tidak
perlu turun untuk diperiksa. Pernah suatu malam di perbatasan Jerman dan
Ceko, saya terbangun karena mendengar derap orang baris-berbaris yang
menggunakan sepatu boots yang berat. Bug, bug, bug. Begitu saya
membuka mata, segerombolan tentara bersenjata sedang memasuki
kompartemen kami satu per satu untuk pemeriksaan paspor. Ih, serasa di
zaman perang jadi tawanan gitu!
Sistem kereta Eropa yang canggih benar-benar tepat waktu sampai ke
menit-menitnya, jadi kalau dalam jadwal kita akan tiba di kota X pada
jam 13.03 maka tepat jam 13.03 kita akan sampai di kota X. Susahnya
kalau kita turun di suatu kota kecil, tidak ada pemberitahuan yang jelas
kecuali membaca plang, belum lagi kereta hanya berhenti 2-3 menit saja,
sehingga saya harus menyalakan alarm sebagai pengingat. Suatu malam
tiba di kota Strasbourg, entah mengapa alarm tidak berbunyi dan baru
tersadar setelah membaca plang stasion. Buru-buru saya ambil ransel dan
berlari tanpa mengaitkan tali ransel bagian pinggang. Di pintu sebelum
keluar, tali ransel saya stuck dengan sesuatu sehingga saya
tidak bisa bergerak. Usut punya usut ternyata tali ransel tersangkut di
kepala seorang kakek-kakek yang sedang asik tidur di kursi terdekat dari
pintu. Saya tarik sedikit, si kakek tidak bergeming. Saya
guncang-guncang badannya, si kakek tetap diam. Saya minta tolong orang
di sebelahnya untuk membangunkan, tetap cuek. Akhirnya pluit kereta
bunyi, saya tidak ada waktu lagi, dan… KREK, saya tarik ransel dengan
kencang, berlari ke pintu sampai badan saya sempat terjepit di antara
kedua pintu kereta. Bagaikan Hulk saya merentangkan tangan menahan
pintu, baru saya loncat keluar. Dari kejauhan saya melihat si kakek dari
jendela memaki-maki saya sambil mengacung-acungkan bogem. Saya cuek
saja berjalan dan ketika saya akan mengaitkan tali ransel di pinggang,
saya pun melihat…sejumput rambut putih si kakek! Walah, saya telah
mencabut sebagian rambutnya yang memang sudah sedikit!! Ups…
0 komentar:
Posting Komentar