“The city is like fairy tale“, demikian kata kolega saya
yang berasal dari Jerman mengomentari kecantikan ibukota negara
tetangganya. Ya, ia berkomentar tentang Praha, ibukota Republik Ceko.
Tidak ada lagi istilah Cekoslowakia, mengingat Ceko dan Slowakia telah
memisahkan diri menjadi negara merdeka sejak tahun 1993. Benar saja,
selama kurang lebih tujuh jam perjalanan bus dari Budapest, Hongaria,
tempat saya menimba ilmu, saya disuguhi pemandangan yang agak berbeda.
Memasuki ‘gerbang’ Praha, pertama-tama kita akan melihat banyak
perusahaan multinasional di kanan dan kiri maupun gedung-gedung
bertingkat. Dari kejauhan, menariknya, bangunan Prague Castle yang
menjulang dapat terlihat di antara bukit-bukit. Saya semakin tidak sabar
dibuatnya.
Tiba di stasiun bus Florence, berbekal single ticket seharga
24 koruna (sekitar 12.000 rupiah) saya yang dijemput kawan CouchSurfing
lantas menjajal transportasi publik di Ceko. Seperti tempat-tempat lain
di Eropa pada umumnya, jalur metro, tram, dan bus di Ceko sangat
terpadu. Tiket saya berlaku satu jam dan dapat digunakan untuk semua
jenis transportasi. Langit yang semakin gelap membuat saya semakin
terdorong untuk sesegera mungkin sampai di ‘centrum‘ atau pusat kota.
Old Town Square
Old Town Square! Saya masih ternganga betapa indahnya
bangunan-bangunan asli warisan Bohemia di sekitarnya. Powder Gate,
sebuah gerbang kuno mistik dari abad ke-13 akan menyambut Anda begitu
melangkahkan kaki menuju Old Town. Tak jauh dari situ terdapat Municipal
House, yakni bangunan cantik khas Art Nouveau yang dalam masa Revolusi
Velvet digunakan sebagai tempat pertama bertemunya pemerintah komunis
Cekoslowakia dan pemerintahan sipil yang baru. Tibalah saatnya
berkunjung ke Old Town Hall, tempat hampir seluruh turis internasional
berkumpul. Jangan lupakan pengalaman seumur hidup melihat jam
astronomikal atau Old Town Orloj yang tersohor! Setiap satu jam sekali,
jam ini berbunyi dan uniknya, terdapat boneka-boneka yang bergerak,
lengkap dengan suasana mistis seperti keberadaan tengkorak ataupun
hantu-hantu (masih dalam boneka).
Charles Bridge
Malam itu pula saya berjalan melewati Charles Bridge, yang juga
menjadi salah satu ikon Praha. Jembatan tertua di Praha ini secara
strategis menghubungkan Old Town dan Lesser Town. Di jembatan ini juga
mengalir Sungai Vltava. Saya tidak tahu alasannya, tetapi jelas sekali
kesan yang saya dapat tentang senja di Praha adalah tua, mistis, dan
senyap. Berbeda sekali dengan kegemerlapan kota Budapest, misalnya.
Mungkin ini yang memang ditonjolkan oleh pariwisata di Praha, bahwa
untuk menarik sebanyak-banyaknya wisatawan adalah dengan memiliki
keunggulan kompetitif. Ah, andai saja pariwisata Indonesia memiliki
pemahaman yang sama, pikirku.
Astronomical Clock
Keesokan harinya saya bepergian ke salah satu daerah wajib-kunjung di
Praha, yakni Prague Castle. Inilah kompleks kastil terluas di seluruh
Praha. Di dalamnya terdapat St. Vitus Cathedral yang bernuansa gothic.
Sulit mendeskripsikannya, karena selain saya bukan ahlinya, katedral
ini menyimpan pesona tersendiri. Sisi-sisi yang runcing menjulang,
hitam, ditambah patung-patung iblis semakin menambah kesan menyeramkan.
Tepat di belakang katedral ini terdapat area yang dinamakan Hradcany.
Bangunan-bangunan di sekitarnya tidak kalah cantik, semisal
Schwarzenberg Palace yang mudah dikenali keberadaannya berupa arsitektur
kaya khas Sgraffito yang dibangun pada abad ke-16. Pemandangan Golden
Lane tidak boleh terlewatkan, yakni jalanan tersempit di kawasan Prague
Castle bahkan Praha sekalipun. Di dalamnya terdapat miniatur-miniatur
rumah di masa lalu lengkap dengan aksesorisnya.
Di sisi baratdaya Hradcany ini, terdapat tempat wisata yang tidak
kalah menarik. Kompleks gereja Strahov Monastery, adalah salah satu yang
tertua di Republik Ceko. Kompleks ini bergaya Baroque dan ditemukan
pada tahun 1140. Di tempat lain, Lesser Town menawarkan gereja St.
Nicholas, masih bergaya sama (Baroque) dengan arsitektur yang juga
indah. Atau Josefov, tempat bermukimnya orang-orang Yahudi di Praha.
Lokasi yang sangat dekat dari Old Town ini terkenal berkat Parizska
Street-nya (baca: Paris), kawasan super elit dimana puluhan bahkan
ratusan rumah mode terkenal dunia berkumpul. Old New Synagogue, sinagog
tertua di seluruh daratan Eropa berada di sini. Terdapat pula Old Jewish
Cemetery, tempat dimana orang-orang Yahudi dikebumikan maupun sinagog
lain yang tidak kalah tuanya, Pinkas Synagogue. Saya sendiri sempat
mengunjungi beberapa bangunan berarsitektur megah lain seperti National
Museum (Wenceslas Square) dan National Theatre yang keduanya bergaya
Neo-Renaissance atau The Dancing House yang terkenal berkat gedungnya
yang tak lazim (baca: miring). Kesemuanya semakin meyakinkan saya bahwa
Praha adalah kota tua yang budaya Eropa-nya amat kental sekaligus
beragam.
St. Vitus Cathedral
Seperti biasa, setiap awal minggu perkuliahan dosen saya selalu
menanyakan ke manakah kami selama liburan. Ketika tiba giliran saya,
saya menjawab dengan mantap: Ceko! Ia, yang orang Hongaria, bertanya
kembali (masih dalam bahasa Hongaria) yang kurang lebih artinya “Which one is the best, Budapest or Prague?” Karena memang bingung, awalnya saya jawab keduanya sama-sama kota yang cantik. Tetapi karena dipaksa memilih, saya katakan “Prague, because the city seems older than Budapest”. Dosen saya langsung berujar, “Yes, exactly, because Prague was safer during World War I and II. But here in Budapest, bombs were everywhere at that time”.
by: RanselKecil.com

0 komentar:
Posting Komentar